Realitas Wirid Harian



Wirid bagi ketiga level murid yang berbeda ini harus dilakukan setiap 24 jam sekali, bersama dengan kewajiban lain menurut syariah Nabi (s).  Segala yang dibawa oleh Nabi (s) dapat ditemukan di dalam wirid ini.  Ia adalah jalan bagi seorang budak untuk mendapatkan kunci kedekatan dengan Allah (swt).  Dengan jalan itulah para nabi, rasul dan awliya mencapai Pencipta mereka, dan melalui wirid ini kita akan mencapai semua maqam di dalam tarekat yang paling mulia ini.

Para mursyid di dalam Tarekat Naqsybandi yang mulia mengatakan bahwa barang siapa yang mengklaim bahwa ia terhubung dengan salah satu dari ke-40 tarekat atau terhubung dengan Tarekat Naqsybandi yang mulia, tetapi belum pernah memasuki khalwat sama sekali di dalam hidupnya, maka ia seharusnya merasa malu untuk mengaitkan dirinya dengan orang-orang yang berada di Jalur ini.

Di masa kita, Grandsyekh Abdullah ad-Daghestani berkata, “Bila orang-orang di akhir zaman ini ingin mencapai derajat yang tinggi dan kedudukan yang mulia serta mendapatkan apa yang biasanya didapatkan oleh murid melalui khalwat dan latihan-latihan spiritual, maka ia harus terus melakukan wirid ini.  Dengan wirid ini, kita telah meletakkan fondasi bagi maqam-maqam yang lebih tinggi, yang dibangun di atas fondasi ini.  Murid harus mengetahui bahwa bila ia gagal mencapai maqam yang mulia dan level yang tinggi di dunia ini karena kurangnya upaya yang dilakukan, ia tidak akan dipisahkan dari dunia ini hingga Syekh membuatnya berhasil mencapainya dan membukakan maqam itu baginya, baik selama hidupnya atau pada saat tujuh napas terakhirnya ketika sakaratul maut.”

"Jika seseorang melakukan wirid ini kemudian ia melakukan suatu perbuatan terlarang, ia akan menjadi seperti orang yang membangun rumahnya di tepi jurang dan kemudian rumahnya runtuh di tepi jurang itu.  Jadi kita harus selalu waspada terhadap tindakan kita, menimbangnya apakah halal atau haram, apakah Allah akan murka dengan perbuatan kita atau tidak.  Dan kita harus memikirkan matang-matang setiap perbuatan yang akan kita lakukan sehingga pada akhirnya kita tidak melakukan perbuatan yang haram yang mungkin dapat melemahkan fondasi kita.  Itulah sebabnya kita harus berpikir sebelum melakukan sesuatu. Sebagaimana Nabi (s) bersabda di dalam hadis suci, ‘Satu jam bertafakur adalah lebih baik daripada tujuh puluh tahun beribadah.'  Kita harus melakukan perbuatan kita dengan benar-benar sempurna, tanpa ada intervensi dari sesuatu yang haram."

"Atas dasar ini, Allah telah membagi hari ke dalam tiga bagian: delapan jam untuk ibadah, delapan jam untuk mencari nafkah dan delapan jam untuk tidur.  Orang yang tidak mau menerima dan mengikuti pembagian energi ini akan menjadi contoh bagi hadis: 'Orang yang hidupnya tidak teratur, ia akan menjadi tidak teratur di Neraka.'  Orang yang hidup semaunya tidak akan mengalami kemajuan dan orang yang ingin mencapai maqam-maqam dan level yang mulia yang telah diraih oleh generasi sebelumnya melalui khalwat dan latihan spiritual, ia harus mengingat Allah sepanjang hari."

Grandsyekh melanjutkan, "Orang yang biasa melakukan wirid akan meraih Air dari Kehidupan Sejati, yang dengan air itu ia akan melakukan wudunya.  Ia akan berendam di dalamnya dan meminumnya dan dengan itu ia akan mencapai tujuannya.  Ada seseorang yang mengklaim bahwa ia telah menjalani tarekat selama tiga puluh tahun, namun ia belum melihat sesuatu atau mencapai sesuatu. Jawaban bagi orang itu adalah lihatlah pada perbuatannya selama ini.  Berapa banyak kekurangan yang telah diperbuatnya?  Ketika kalian mengetahui kekurangan itu, kalian harus cepat menghindarinya, dengan demikian kalian akan dapat mencapai Allah (swt).  Ketika murid meninggalkan apa yang telah diperintahkan oleh Syekh, yaitu mengerjakan tugas harian (wazifa), maka secara mutlak ia tidak akan mengalami kemajuan lebih lanjut dan ia tidak lagi mampu mencapai suatu keadaan di mana sebelumnya ia telah mencapainya.  Tidak ada nabi yang mencapai kenabiannya, atau tidak ada wali yang mencapai kewaliannya, dan tidak ada orang beriman yang pernah mencapai derajat keimanannya tanpa menggunakan waktunya  untuk melakuakan zikir harian."

http://naqshbandi.org/dhikr/Realities.htm